Saturday, 30 August 2014

Fly to Lombok


Berawal dari celotehan yang asal nyeplos, akhirnya terwujud juga keinginan ini. Yaa, seperti waktu ke Padang. Beberapa minggu sebelumnya (waktu belum kerja), pernah bikin status di BBM “lagi on the way ke Padang”. Padahal iseng aja itu, ehh pada banyak yang komen. Kerja di sana? Kuliah lagi di sana? dsb. Ehh, waktu kerja tugas pertama emang ke pergi Padang beneran. Well, emang bener omongan adalah do’a. Jadi ngomong yang baik2 aja yaa, sakral banget soalnya. hoho

Destinasi yang sangat kuimpikan ini terwujud pas tugas dari kantor. Yupz, ke Lombok.... J. Awalnya tanya – tanya temen kuliah yang asli Lombok. Misal mau ke Lombok apa aja sih spot yang recommended? Yaah, di sana mah surganya pantai, tinggal pilih dah. Mereka bilangnya gitu, tapi yang paling seru & banyak pengunjung itu adalah trio Gili atau dalam bahasa sasak, gili itu artinya pulau. Jadi tigaw pulau. Ada Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Tapi yang paling memukau adalah Gili Trawangan. Nah, beberapa hari setelah aku tanya-tanya ini, aku disuruh ke Sumbawa untuk relokasi perangkat VSAT di salah satu Bank di sana. Nah loh, kebetulan kan?

OK jadi misinya itu relokasi antena VSAT yang awalnya dari lokasi lama dipindah ke lokasi baru, soalnya banknya punya gedung baru. So, akhirnya aku yang berangkat. Persiapan udah kusiapin sesiap mungkin. Sesampainya di BIL (Bandara Internasional Lombok) aku yang excited saat itu, langsung menuju baggage claim room. Langsung nyari troli untuk ngangkut sparepart yang kubawa. Tapi sungguh menyebalkan, trolinya habis men. Akhirnya tanya petugas untuk ngambil troli di luar, tapi hasilnya nihil. Sampai semua penumpang yang 1 pesawat denganku tadi udah pada kelar, aku masih di situ nunggu troli. Oh what the......Pengen marah, tapi inget kalo lagi puasa. Akhrinya sabar nunggu, dapetlah dari ruang sebelah.
               
Begitu keluar Bandara langsung telfon Bro Ganang yang pernah ke Sumbawa, tanya aksesnya ke Sumbawa naik apa aja biar nggak bingung. Aku disuruh naik taxi ke kota Mataram untuk nyari travel tujuan Sumbawa. Siang itu juga sekitar jam 2 aku berangkat ke Sumbawa naik travel dengan perjalanan kurang lebih 5,5 jam (2 jam Mataram ke Pelabuhan, 1,5 jam nyebrang selat Alas & 2 jam dari pelabuhan di Sumbawa ke TKP). Seru juga ternyata nglewatin Selat Alas ini. Sesampainya di Sumbawa langsung menuju lokasi untuk bertemu Pak Mahbub yang notabene adalah PIC (Person in Charge) bank. Istirahat sejenak, langsung lanjut survey lokasi yang memungkinkan untuk dipasagin antena VSAT.
                
Awalnya sih mau dipasang di belakang kantor seperti antena parabola TV yang ada. Tapi setelah aku lihat nggak bisa jika dipasang di situ, soalnya obstacle dengan gedung bank. So, nyari alternatif lain. Hmmm, setelah dapet rekomendasi dari Pak Mahbub, disuruh nyoba di dak depan atas bank. OK, aku naik ke atas via tangga yang udah tua renta dan fantastik. OMG kalo mengingatnya. Aku tetapin dah di situ, karena lokasinya di situ emang LoS (Line of Sight) ke arah satelitnya. Well, pamit dulu ke hotel. Besok agendanya dismantle antena di gedung lama.
                
Memasuki hari kedua di tanah Sumbawa ini aku langsung bergegas dari hotel menuju daerah Sumbawa Besar deket SMP berapa lupa aku, pokok itu lah. Sampai di situ langsung kueksekusi untuk bongkar tuh antena. Untuk kemudian diangkut ke Jl. Garuda Sumbawa Besar (kantor baru) bareng sama brangkas yang gede tuh dibantuin tukang tentunya. Jadi waktu itu ada orang borongan juga yang ngangkut brangkas ke kantor yang baru. Oya, ternyata di Sumbawa banyak orang Jawa juga. Ntah kebetulan atau nggak, pokok banyak lah kujumpai. Mulai dari tukang bangungan kantor yang baru, pegawai bank, sampai kuli borongan juga.
                
Waktu itu aku sama Mas Deni (pegawai bank aslinya Malang) & Pak Didik (tukang bangunan/listrik yang asli Malang juga). Waaah opportunely kan bisa ketemu mereka, baik-baik lagi. Aku kan waktu progress instalasi antena ke dak lantai 3 nggak mungkin bisa ngelakuin sendirian. Nah, aku minta bantuan sama Pak Didik yang kebetulan juga udah kelar kerjaannya di Sumbawa. Rencananya mau ke Mataram besok lusa. Jadi daripada nganggur aku mintain tolong dah untuk bantu. OK, sore itu juga menjelang Ashar, material semua kami naikin keatas dengan bantuan tambang. Aku pengennya hari itu juga minimal antena udah berdirilah. Soalnya dikejar target lusa harus udah on air.
                
Well, at that time I can do it. Dengan bantuan Pak Didik akhirnya antena berdiri sore itu juga. Mau kuprogress pointing sekalian sampai malam. Sekitar jam 8 mataku udah lelah sekali, badan capek. Aku pointing belum dapet, soalnya software yang kupunya kena virus di laptop. Jadi nggak bisa kugunain untuk mengetahui berapa dB kah saat kulakukan pointing. Cuma ngandalin warna indikator modem, dan itu menyebalkan euy. Aku putusin untuk balik ke hotel, istirahat dan download software manfaatin wifi yang kenceng. Soalnya di daerah NTB ini yang kenceng internetnya cuma XL. Aku pake im3, telkomsel juga ngadat. Yaa, daripada pusing mending ke hotel internetnya kenceng.
                
Nah, hari kedua proses pointing datang & ini yang paling terkesan selama ini. Untuk menuju dak depan (lokasi antena) kan harus lewat tangga belakang. Nah, tangganya ada dua. Di tangga yang pertama it’s OK bisa kulewatin seperti biasanya. Tapi pas naik tangga kedua, anjrit sial benar. Tangga yang udah tua itu ternyata ada sarang lebahnya. Lebahnya sih kecil tapi banyaknya bukan main, pas kuinjak itu ternyata sarangnya. Langsung aja aku naik dengan cepat sampai akhirnya jatuh pas nyampai atap. Untungnya sih nggak jatuh ke bawah. Pas aku terlentang di atap itu lebah langsung menyerangku, sakit semua rasanya. Tangan, kaki, leher. Kena semua dah. Lemas lah habis itu, istirahat sejenak sebelum pointing lagi.
                
Setelah kurasa cukup istirahatnya, aku lanjutkan pointing. Tapi badanku lemas sekali rasanya, nggak ada semangat sama sekali. Udah cuaca di sana panas sekali, sampai memunculkan niatan buruk (batalin puasa). Lha gimana lagi, badan nggak kuat, semangat hilang, oh My God. Kulihat di dalam tas ada sebotol air mineral yang sangat memancing, akhirnya aku nggak tega melihatnya sendirian. Aku ambil dan kuteguk dengan nikmat di siang bolong itu. Pak Didik yang saat itu lagi ngerjain instalasi kabel RF melihatku sambil tersenyum. “Lho kok?” aku nggak kuat Pak, jawabku dengan penuh senyum juga. Hahaha. Aku putusin untuk nggak nglanjut pointing, tapi membantu Pak Didik merapihkan dudukan antena (dicor). Dan hari itu aku balik ke hotel agak sorean untuk istirahat aja di hotel.

OK hari ketiga adalah hari terakhir aku ngerjain & harus sudah bisa on air. Sebelumnya dikasih arah oleh Bro Ganang. Kalo untuk lokasi Bali Nusra dsk. Untuk ngarahin ke satelit ternyata butuh elevasi antena yang cenderung agak rendah. Itu tergantung jenis satelitnya sih. Kebetulan satelit yang dipakai adalah Apstar 4 milik Hongkong yang letaknya kurang lebih di atas Maluku atau Sorong. Jadi harus ngepasin lokasi satelit yang dituju tsb. Misalkan satelit telkom/palapa yang letaknya di atas Pulau Kalimantan ya tinggal diarahin ke sana (cenderung keatas). OK aku naik tangga denga  hati-hati banget, pelan-pelan. Dan akhirnya sampai deh di atap. Meski masih diserang, tapi nggak sebanyak lebah hari sebelumnya. Soalnya udah diobong sama Pak Didik.

Sampai di dak, langsung kupointing, dan taraaa dengan bantuan software drop Insert yang kudownload kemarin akhirnya ngelock juga. Alhamdulillah, langsung NOC Jakarta telfon aku untuk ngabarin kalo udah up dimonitor. OK langsung deh aku minta request crosspoll. Hari itu juga rampung dengan rapi pekerjaanku. Alhamdulillah.

Menunggu detik-detik pulang, aku mau diajak oleh mas deni untuk keliling Sumbawa. Dia juga baru beberapa bulan di Sumbawa jadi belum banyak teman, ini ketemu aku dia seneng ada temen jika untuk sekedar ngopi. OK lah kuiyain, tapi akhirnya nggak jadi soalnya udah terlalu malam waktu itu & aku rasa waktunya untuk istirahat aja deh untuk persiapan besok sore balik ke Mataram. Sebenarnya pengen banget nyari oleh-oleh khas sini, tak lain adalah susu kuda liar sama madu khas Sumbawa. Tapi Sumbawa yang dimaksud adalah Pulau Sumbawa bukan Kota Sumbawa. Jadi aku baru tahu juga waktu telfon’an sama Ihwan (anak Sumbawa) rekan kuliah di Malang. Ya, sayangnya dia lagi nggak di Sumbawa soalnya lagi ngerjain skripsi di Malang. Dia kutanya di mana belinya aja nggak tahu, dan ternyata itu yang banyak jual susu kuda liar itu di daerah Dompu. Dan itu masih jauh lagi men.. Walah. Tanpa oleh-oleh deh dari Sumbawa.

Nah, sore itu juga aku balik ke Mataram via rute yang sama. Melewati bibir pantai Sumbawa dengan disuguhkan beberapa sapi yang dibiarkan terlepas begitu saja di kebun yang benyak rumput itu. Wah, natural banget dah pokoknya. Sampai di Lombok (Mataram) sekitar pukul 19:00 Wita, dan aku langsung ke Wisma yang sebelumnya aku booking (di daerah Cakranegara). Istirahat sejenak, kemudian cari makan. Oya sebelumnya aku telfon Vera temen kuliah (anak Lombok) yang kebetulan posisinya lagi ada di Lombok. Wah, seru kayaknya kalau ada tourist guide nya nih untuk jalan-jalan di Lombok (pikirku). Aku sengaja minta dia untuk nganter ke Pantai di sekitarnya, dan itu salah satunya adalah Senggigi. Waaah, denger namanya aja bikin ceria.

Diapun mau untuk nganter, besok harinya dia jemput di Wisma yang jarak dari rumahnya sekitar 15 menit naik motor. Yihaaa, pergi dah kami. Begini nih enaknya punya temen di mana – mana. Makanya banyak temen banyak berkah itu bener. Destinasi pertama adalah Pantai Senggigi, di pantai ini sebenranya rame banget loh. Tapi berhubung ini adalah bulan puasa, jadi mungkin itu juga yang menyebabkan sepi. Nggak banyak wisatawan domestik/asing yang berkunjung. Tapi, tak apa. Yang penting dapet pemandangan yang indah. Jadi perjalanan kami selain Senggigi adalah ke Jembatan Malimbu yang dapat melihat Pantai Malimbu, Trio Gili dari jauh dan beberapa pantai di sederetnya. Keren dah pantainya.

Habis seharian puas main di pantai, lanjut beli oleh-oleh untuk keluarga & temen-temen di kantor. Tapi sebelumnya mampir dulu ke rumah Vera untuk tukar motor. Soalnya motor yang sebelumnya mau dipake katanya. For your information, Lombok itu kuliner yang terkenal adalah Ayam taliwang. Tapi aku nggak sempet mencicipinya, karena saat itu masih puasa. Selain itu jajanan khasnya adalah dodol rumput laut, waah enak banget tuh. Kalo untuk aksesoris tak lain dan tak bukan adalah mutiara Lombok. Mutiara sendiri ada mutiara air laut dan tawar. Yang laut adalah mutiara terbaik dunia yang dimiliki negeri kita tercinta ini gaess. Yupz, Lombok. Berbangga diri dong jadi orang Indonesia. Oya yang tak boleh dilupakan adalah kain tenun asli Lombok. Jadi di Lombok tengah ada nama desa namanya desa SADE. Di sana yang terkenal itu adalah souvenir kain tenunnya. Selain itu kebiasaan masyarakat sekitar kalau membersihkan lantai rumahnya adalah dengan kotoran kerbau. Coba deh cek di youtube. Sering juga kok nongol di TV. Keren tuh, tapi sayangnya aku nggak berkesempatan untuk pergi ke sana. Soalnya, waktu tidak cukup. Akhirnya aku mampir di tempat lain (lupa nama desanya), tak jauh dari BIL kok. Di situ juga sentral kain tenun. Lumayan loh, aku beli sarung per lembar itu 100 ribu, itu keren sarungnya. Sekalian beliin bokap juga :)
              
Setelah kurasa cukup, akhirnya balik deh ke Wisma untuk prepare balik ke Jakarta. Sungguh berjalanan yang mengasyikkan. Kerjaan beres, liburanpun juga dapet. Yeeeey, trima kasih Sumbawa, trima kasih Lombok. Trima kasih juga Vera. I just wanna say “Damn I Love this country, Indonesia”. Next time, I’ll go there again. Masih banyak tempat – tempat yang musti kueksplor lagi. Karena kunjungan ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan jumlah tempat wisata yang melimpah di Lombok ini. As we know, Gunung Rinjani adalah salah satunya. Itu sangat menyenangkan jika bisa mendaki di situ. Semoga masih diberi kesempatan untuk mengunjungi keindahan di pulau ini serta pulau lainnya di negeri tercinta ini.

OK, berikut beberapa potret saat di NTB mulai dari pekerjaan sampai pemandangan lautnya.
Nampak depan Kantor bank baru

Hasil relokasi antena VSAT di bank baru
Nah kalo uang ini nampak antena VSAT dari tempat aku beristirahat saat disengat lebah. Sekitar 17 meter nyebrang asbes ini. 
Antena VSAT nampak dari belakang
Kalo berikut ini selebrasi waktu di Pantai Senggigi dan Malimbu... hahay :)


Pantai Senggigi

Looked cute, right? :D

This one, looked cool :)

Find more spot

Senggigi view

Malimbu bridge
Malimbu bridge

Kalo yg satu ini penampakannya si Vera alias tourist guide :D

Itulah perjalanan di Lombok dan Sumbawa. See you next time, tunggu cerita dari daerah lain.... :)









Saturday, 16 August 2014

First Mission


Sungguh bersyukur sekali ane kerja di perusahaan ini. Why not? sudah kerjanya sesuai keinginanku, ditambah lagi orang-orang di lingkungan kantor yang ramah. Posisiku adalah sebagai Service and Communication Support. Sebagai pintu gerbang lah kasarnya, baik internal maupun eksternal. Tentunya ane juga dituntut untuk ngerti lapangan dong. Maka dari itu excited sekali untuk posting pengalaman pertama ini. Langsung aja ya cekidot...

Waktu itu hari Senin sore tepatnya seminggu setelah aku pertama kali masuk kerja. Selama seminggu itu udah ngikutin sana sini, untuk training di ATLC (AJN Training and Learning Center) dan juga belajar intern di kantor. Nah di sore itu, Pak Rakhmat yang berada di department saya (Service and Quality) meminta tolong aku untuk pergi ke kota Padang. Ha?

Bukannya apa, tapi kan aku belum tahu begini begitunya di lapangan. Tapi nggak apalah, pikirku. Di sana rencananya disuruh nganter spare part VSAT ke teknisi sana yang sedang melakukan maintenance. Pikirku kenapa kok nggak port to port aja. Eh dihitung-hitung dari segi efisiensi waktu lebih cepet kalo dibawa langsung oleh orang (kantor) atau handcarry istilahnya.

Okelah, pulang langsung istirahat. Soalnya besok (selasa) disuruh jam 4.00 harus nyampe kantor (dianter driver). Sampai akhirnya saya sudah di kantor jam 4 kurang. Dan barang 3 kardus gede menyambutku, Huaaaa. Nyampe di Bandara Soekarno Hatta langsung chek in dibantuin Pak Edi (driver), soalnya berat & banyak barangnya. Di dalam istirahat dulu di boarding pass room yang masih lama banget.

Akhirnya pesawat take off jam 8.30 dan landing di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sekitar jam 10.20. Wow, awesome banget dah view nya. Selain bangunan Bandaranya yang ala ala bangunan rumah makan Padang ehh pas mau landing keren banget lautnya yang biru dengan degradasi warna hijau yang bikin pengen banget nginjak tanah Minang ini.

Begitu sampai di Bandara dan aku harus ngedorong troli 3 kardus ini sampai luar ditambah lagi para sopir-sopir menjajakan diri. Ehh diri lagi, menjajakan tumpangan mobil maksudnya. :D Onde Mande. Sek sek, istirahat dulu lah pikirku. Duduk di kerumunan orang-orang yang baru landing. Sampai akhirnya teknisi yang mau kutemuin telfon, ngasih tau kalo nggak bisa jemput. Ane disuruh naik mobil. Pas jalan disamperin sopir & tanya mau kemana bang?. Ke Siteba bang, jawabku. Langsung dia bilang, ”sini aja bang 120 sama aku”. Aksi-aksi not responding aku diam sejenak.” Sek-sek sebentar bang, ini penjemput gua katanya mau dateng kok lama”. Dia nunggu beberapa menit, dan aku bilang “Gimana kalo 70 bang? Kayaknya yang jemput gua ga bisa nih”. Nggak mau dia, anjritt. Minta 100. Ya udah 80 aja lah, cukup itu kayaknya. Akhirnya dia tetep ga mau. Tapi temen di sebelahnya mau. Oke sukaaa, let’s go...

Di sepanjang jalan kunikmati keindahan kota Padang yang menawarkan sejuta pesona itu, khususnya rumah adat Padang itu loh, rumah Gadang. Lepas dari itu, teknisi (Mawardi namanya) menghubungiku lagi dan menanyakan keberadaanku. Kubilang kalo lagi on the way dan dia nyuruh nyerahin Hpku ke driver untuk diajaknya ngobrol harus di mana kami turun. Bla bla bla, mereka ngobrol pake bahasa minang dan lucu aja dengernya. Yaa, terasa kayak lagi di warung Padang waktu penjualnya ngobrol sama bininya (di Malang dulu). OK, ternyata kami disuruh ke STIKES Siteba untuk nemuin Tiven (kawan Bang Mawardi). Setelah ketemu langsung kami menuju site untuk nurunin spare part dan langsung ngerjain apa yang semestinya kami kerjain.

Bang Mawardi-nya ternyata masih nganter Ibunya ke pasar. Sambil nunggu ngobrol ini itu sama Bang Tiven. Dengerin curahan hati-nya tentang statusnya yang belum jelas. Dia masih belum bisa seperti kakaknya, Bang Rusli. Yang notabene adalah teknisi AJN juga untuk kawasan Padang. Bang Tiven ini hitungannya masih freelance, jadi dia kerja kalo ada panggilan dari Bang Mawardi. Bukan dari AJN langsung. Yaaa, ngobrol panjang lebar lah. Sambil sesekali aku bertanya tentang khas kota Padang, tempat wisata, sampai belajar sedikit-sedikit bahasa Minang.

Seru sih, tapi agak canggung juga mau ngapain aja kira-kira ntar. Masalahnya misi yang kutahu cuma nganter spare part doang, no more. Lagian Pak Rakhmat bilangnya gitu ke ane. Setelah Mawardi dateng, akhirnya dijelasin ini itu. Ternyata disuruh ngeganti SSPA/Solid State Power Amplifier (sebelumnya rusak) nggak mau transmit. Oalah ngono toh. Ya siap untuk mempelajari ilmu baru. Mereka ngerjain sambil sesekali kutanya fungsi dan spesifikasi spare part yang recommended itu yang bagaimana, supaya dapat bekerja maksimal itu parameter-parameternya itu harus seperti apa. Semua dah sebisa mungkin aku ngerti.

Pekerjaan seperti ini sih sebenernya nggak membosankan, orang cuma ganti perangkat. Trus test di modem-nya udah nge-lock belum, kalo udah dimonitor, kalo belum ya terus dicari solusi gimana bisa nge-lock. Tapi berhubung aku lelah, nggak maksimal gitu sepertinya. Tapi nggak apalah mereka juga ngerti pastinya, orang aku selain pegawai baru kan juga baru nyampe. Jadi ya woles gpp dong. Nah loh, sampai larut malam juga belum nge-lock juga modemnya. Parah-parah, sudah lelah sekali mata. Istirahat lah sampai ngabisin kopi beberapa cangkir & beserta soft drink ludes des.

Modem nge-lock sekitar pukul 02.00 dan itu damn banget dah. Pengen sekali ngrebahin raga ini. House keeping dah. Langsung menuju penginapan, tapi sebelumnya ngisi perut dulu euy. Kebetulan lagi ada pertandingan liga champion Bayern Muenchen VS Real Madrid tuh. Yaa, sampai subuh dah baru pulang.
Paginya badan capek sekali rasanya, ampun ampun. Misiku ternyata tak berhenti di sini, masih harus ke kota Padang Sidempuan – Sumatra Utara untuk install modem NMS (Network Management System). Onde Mandeee, 12 jam perjalanan darat euy. Alamaaak. Tapi sebelum itu, hari itu juga harus nyelesain masalah di Siteba dulu (belum connect modem NMS-nya). Yang akhirnya sampai jam 18.00 baru connect. Oya, pagi hari itu istilahnya kalo ayam mau diadu itu sangat belum fit alias pasti jatuh kalo dipaksa. Tapi entah kenapa setelah minum teh telor yang katanya khas Padang itu nggak kerasa lelah lo. Tiven yang ngajak minum di warung sebelum berangkat ke site. Wow, khas banget rasa tehnya. Hangat sekali di badan. Nih penampakannya, sayangnya pas habis baru inget untuk mengabadikan. Mau pesen lagi ya kalo nggak muntah. hehe
Teh Telor

Mungkin itu saja cerita untuk misi pertama ini, sebenarnya banyak banget yang ingin kuceritain. Tapi masih belum ada banyak waktu. Thanks yaaa....


Monday, 19 May 2014

New Civilization

Well, nglanjutin postingan yg sebelumnya (After Life). Nyesek rasanya kalo keinget “failed test” itu. Tapi bukan gace namanya kalo nggak bisa move on.

Waktu itu hari rabu pas aku posisi lagi di kampung halaman, selama seminggu makan tidur makan tidur sambil nyari informasi lowongan kerja. Dari A sampai A lagi tak hentinya aku mencari. Sampai ada kabar dari Adit kalo di JPC UB ada walk in interview dari salah satu perusahaan. Langsung aja kubuka webnya dan ternyata ada lowongan dari PT AJN Solusindo. Apa itu? Ternyata perusahaan penyedia layanan telekomunikasi yang berbasis di VSAT (Very Small Aperture Terminal). Kulihat kualifikasi yang dibutuhin apa aja, dan kemungkinan untuk bisa ngikutin walk in interview itu bisa lah aku ikutin. Karena diambilnya dari jurusan Teknik Elektro (major: Telekomunikasi), Ilmu Komputer dan Informatika.

Test hari esok (kamis) dilaksanakan, jadi otomatis kamis pagi aku berangkat ke Malang. Sekitar jam 9 nyampe Malang, sebelumnya sih udah janjian dulu sama Iskandar untuk ikut test bareng. Jam 10 berangkat, nyampe TKP sekitar jam setengah 11 dan langsung absen. Ehh busyett masih sepi, baru kami yang dateng. Adit yang ngasih tau malah belum dateng, aku kabarin untuk cepet dateng sambil nunggu antri, etttdaah ternyata baru bangun dia. Katanya besok aja, kan masih ada hari kedua. It’s Ok lah.

Akhirnya nunggu sampai sekitar jam 10.50. HCM, General Manager Engineering dan Manager Planning and Engineering . Mereka adalah Bu Nila (HCM), Pak Avi (GME) dan Pak Hendi (MPE). Langsung dah aku disuruh masuk (urutan pertama). Di dalem tuh keren banget interviewnya, nggak se-garang yang kukira. Ditanya mulai tentang kepribadian, keseharian di kampus, pengetahuan tentang VSAT, tentang perusahaan, ekspektasi salary, sampe pacar juga ditanya. Hehehe, riskan banget ini. Gokil dah pokoknya, udah gitu hasil interview-nya langsung diumumin via telfon maksimal 2 hari setelah test. Diwanti wanti sama Bu Nila, pokok selama dua hari ke depan HP jangan sampe mati. Nyesel dah kalo mati. Dari situ kePDanku naik sekitar 99 % dari sebelumnya.

OK lah, selesai itu urutan kedua (Iskandar) ganti masuk. Sekitar 25 menit dia wawancara. Sama juga yang ditanya dari pacar sampai keahlian. Hahaha....

Akhirnya selesai lah interview hari itu. Besoknya aku & Iskandar ditelfon. Ya Alhamdulillah ketrima dua-duanya... Eiiitzz, But It just for interview test. And then? Yaaa, ternyata masih ada lagi tahap kedua. Tapi bukan tes lagi, itu tentang konfirmasi masalah salary dll. Yang paling kuinget tuh waktu Bu Nila mempertegas “jika kamu ditempatin di Batam mau nggak?”. Tuing-tuing, it’s OK lah, aku Iya’in waktu itu. Well, Janjinya sih Bu Nila mau telfon hari Senin untuk konfirmasi selanjutnya. Yaaa, aku tunggu dah di kost sambil menikmati sisa-sisa liburan sebelum terjun di dunia kerja, pikirku.

Sampai hari Senin malam, sekitar jam 7 nggak ada kabar. Padahal aku udah excited banget dapet telfon dari beliau. Aku sms aja lah, toh aku ngerasa juga berhak nanyain kejelasan untukku & Iskandar juga tentunya. OK ku sms, beberapa menit dibalasnya. “Sorry mas Angga, hari ini Ibu lagi hectic banget belum sempet untuk masih kabar. Sabar Yaa, besok saya kabarin”. Wew, OK lah yang penting ada reason. Mending kutunggu di rumah aja lah nungguin kabar itu. Akhirnya pulang.... (Be a jobless *just for temporary*).

Di mana-mana orang selalu bosan dengan yang namanya menunggu, entah itu antri di toilet, antri persen makanan, sampe nunggu pacar lagi dandan lah. Pasti bosan kalo kelamaan. Itulah kurang lebih yang kualamin selama kurang lebih satu, dua, tiga .. Hmm, 1 mingguan lah. Nunggu kabar nggak ada kabar. Aku mau sms nggak enak, apalagi telfon. Meskipun itu masih dalam area ku untuk bertanya. Akhirnya tanya temen, pacar. Gimana nih enaknya, What should I do??? Dari hasil survey, Eiitttdah ternyata mending aku sms aja, tanya gimana kejelasannya. Setelah denger kabar dari Iskandar kalo dia udah fix ketrima, finally aku putusin untuk bertanya kepada Bu Nila. Dan nggak sia-sia loh meski pedih hasilnya...hiks Hiks.

Yupz, aku dicadangkan karena perusahaan masih belum bisa menentukan posisi yang tepat untukku. Okeee, aku anggap aku gagal dan harus keep moving forward. Aku putusin balik ke Malang, tapi sebelumnya aku maksimalkan dulu apa yang bisa kulakuin di rumah. Salah satunya adalah daftar di jobstreet.com

Di Malang nggak sia-sia juga aku datang. Ntah kebetulan atau gimana, I don’t know. Tiba-tiba saja ada nomer baru telfon, deg deg serr ini. Ternyata dari salah satu perusahaan telekomunikasi multinasional di JKT yang punya area di all area Nusantara. Itu sih hasil aku submit CV di jobstreet.com. Waaah Alhamdulillah sekali pikirku, yang telfon bilang kalo aku masuk kualifikasi & disuruh Training datang langsung di JKT. Oke siaaaap, kapan berangkatnya nunggu kabar besok. Katanya sih mau ngabarin lagi itu. OK 1 tiket digenggaman lah.

Besok paginya, Bu Nila telfon. Nah loh, ada apa ini?? Ternyata katanya aku masih disuruh nunggu. Kemarin ada kesalahan dari kami (perusahaan), it’s OK lah aku bilang, iya Bu saya tunggu. Agak Sorean dikit ganti yang namanya Mas Yuri (orang AJN juga) telfon. Dia bilang aku masih disuruh nunggu. Aku tanya balik, estimasi berapa lama ya saya harus menunggu. Dia hanya bilang ya ditunggu aja dulu nanti saya kabarin. Owh begindang, OK OK. Aku tunggu lah gpp. Sambil nunggu telfon dari perusahaan kemarin itu juga sih aku sebenernya. Tapi tak kunjung dikabarin ya udah lah.

Ujung-ujungnya Bu Nila yang telfon, katanya aku ketrima. Udah ada posisi yang sesuai. Suruh berangkat bareng Iskandar & teman2 yang lain dari Malang dsk. Alhamdulillah akhirnya usaha dan do’a terbayarkan. Oke pulang pamit sama ortu, kakak, nenek & sodara2 yang lain. Akhirnya perjalanan menuju peradaban baru dimulai.....

Maybe that’s all my Short story. I think that is full with effort and God Works More in My Life. Thanks God, Thank mom, dad. Thanks my sweetheart, all of my friends, especially for my informant Aditya Dika hehehehe.


--Sekuat apapun usaha kita, sehebat apapun kita, kalo tidak disertai dengan do’a pasti hasilnya NIHIL--

Monday, 7 April 2014

MEMBUAT DAFTAR ISI OTOMATIS

Hello everybody...lama sekali rasanya nggak nyentuh blog. Terlalu menyibukkan diri sama skripsweet dan teman-temannya, hehe sorry2.
Kali ini, saya akan berbagi pengetahuan tentang cara membuat daftar isi otomatis. Saya mencoba untuk menulis ini karena masih banyak dari teman-teman yang kurang paham betul tentang bagaimana membuatnya. Beberapa masih ngetik secara manual gitu, ahhh pelecehan teknologi. 
OK langsung saja ke TKP yaaak... berikut ini langkah-langkahnya: 

1. Buatlah halaman terlebih dahulu ( Insert > Page Number > Pilih posisi halaman di atas atau di bawah, di kanan – kiri atau tengah). 

 
2. Buatlah numbering sesuai yang diinginkan (BAB I PENDAHULUAN, BAB II DASAR TEORI, 1.1 Latar Belakang, 1.2 Rumusan Masalah, 1.3 Tujuan ...... dll). Lihat gambar di bawah.

Wednesday, 30 January 2013

STORY IN BANDUNG

Ceritanya saya pas perjalanan ke Bandung nih, sekitar bulan Maret 2012 lalu. Saya dan temen-temen kebetulan mewakili kampus untuk ikut lomba PLC (Progammable Logic Controller) di ITB. Aku berempat, ada Judin, Imam dan Bashar yang satu jurusan di ITN, T. Elektro. Waaah, kesempatan emas sekali ini bagi kami. Meskipun proposal yang kami ajukan disetujui pihak kampus cuma setengah dari jumlah tim kami, tapi kami mensiasati dengan mencari cara lain. Yaitu dengan mencari penginapan yang ala kadarnya. And well, akhirnya kami bisa berempat mengikuti lomba itu. Hehee...

Aku tidak menceritakan tentang lomba yang kami ikuti, tapi ini perjalananku sendiri bukan bersama tim. Yeah, sebelum lomba PLC dilaksanakan kami seluruh peserta diharapkan menghadiri acara Technical Meeting. Dalam TM ini saya disuruh mewakilinya sendirian. Haaa? Iya, mau bagaimana lagi dana sudah mepet, lagipula aku pernah cerita sebelumnya kalau aku ada temen sekolah dulu yang kerja di Bandung. Nah, dari itu temen-temen nyaranin agar aku mewakili mereka dengan menginap di tempat temenku. Awalnya sih saya nolak, tapi aku teringat temenku yang juga pengen ke Bandung untuk berkunjung di tempat kakaknya.

Yuhuw dia adalah Indra, temen kuliah juga. Aku rayu untuk bisa berangkat ke Bandung bersamaku *biar ada teman hehe. And well, akhirnya dia terima tawaranku. Dan kami memutuskan untuk beli tiket kereta di Stasiun Kota Baru Malang. Sekitar seminggu setelah beli tiket ini, akhirnya kami berangkat ke kota kembang Bandung.

Dalam perjalanan, kami disuguhkan pemandangan-pemandangan yang luar biasa indahnya. Melewati kota Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk dst. Yeah indah sekali, nice dah pokoknya. Kayak pas nglewatin bibir jurang & menikmati serunya lewat terowongan di daerah Malang selatan saat itu. Sambil merasakan sensasi di dalam kereta api, sesekali aku memberi kabar temenku yang ada di Bandung, Agus.

Kami turun di Stasiun Kiara Condong yang letaknya sebelum stasiun kota Bandung. Karna memang tempat tinggal temenku lebih mudah ditempuh dari Kiara Condong ini. Dan hal yang tak kami inginkan tiba-tiba menyelinap. Di mana pas aku sudah dekat dengan Stasiun Kiara Condong ini aku nggak bisa ngehubungin No. HP temenku. Wahh kami sempet bingung juga, sampai di Stasiun Kiara Condong kami juga belum bisa menghubunginya. Kami mondar-mandir di stasiun, tapi pas kami mau keluar tiba-tiba ada yang nggebuk saya dari belakang dan ternyata Agus. Wahh, kami lega akhirnya nggak terjadi apa-apa. Dan ternyata HP-nya  hilang pas perjalanan jemput kami. Waduhhh, saya jadi nggak enak. Dan bersamaan Agus datang, ternyata kakaknya Indra juga sudah datang.

Kami langsung melanjutkan perjalanan ke tempat Agus. Setelah nyampe di lokasi, kami istirahat sejenak dan Indra bersama kakaknya pergi ke tempat kakanya itu. Sedangkan aku bersama Agus dan beberapa temen kerjanya, dan kebetulan ada anak Nganjuk juga di sana. Hari pertama di kota Kembang ini aku luangkan untuk istirahat dulu, dan malamnya aku keluar sama Agus dan dilanjut pergi bersama Indra, kakaknya serta dengan teman-temannya. Ya, meskipun diguyur hujan sih hehe. Seneng deh rasanya rame-rame. O iya, kami juga mampir di daerah yang kalau di Malang mirip daerah Payung. Tapi lupa aku namanya, pokok tempat nongkrong anak-anak muda. Ada satu yang berbeda di sini, yaitu pas kami makan, nasinya nasi ungu. Dan rasanya memang beda, gurih gimana gitu.

Sambil ngobrol-ngobrol kami merencanakan acara esok harinya. Karna TM-nya 2 hari lagi dilaksanakan, aku masih bisa rea-reo deh di kota Indah ini. Maklum mumpung lagi di Bandung euy, kapan lagi menikmati sejuknya kota Bandung, kapan lagi ngelihat obrolan orang-orang Sunda ini, hehe. Dan esok harinya kami berencana ke Gunung Tangkuban Perahu yang indah akan kabut dan kawahnya itu. Aku dan Agus waktu itu bangun sekitar jam 6 pagi yang ternyata dingin banget euy. Yahh, cukup cuci muka trus langsung tancap gas ke daerah lembang ke atas lagi. Ehhm, udah dingin, seger, mantep pisan pemandangannya. Nggak rugi dah ke sana. Nyampe di sana, ternyata Indra dan beserta kakak dan pacarnya udah di lokasi. Kami langsung mengitari pinggiran Gunung Tangkuban Perahu ini dan mungkin kami adalah pengunjung yang pertama lo, karna memang masih sepi. Setelah 30 menit’an beberapa pengunjung mulai berdatangan bersamaan dengan gelapnya kabut yang menghiasi kawah nan indah itu. Ya kurang lebih seperti ini wajah kusut orang-orang belum mandi ini.
Eko, Indra, Agus, Saya

F4 


Swiss van Sundanesse


Saat mau balik dari kawah Gunung Tangkuban Perahu ini, kami menyempatkan diri untuk singgah di kebun teh di daerah Subang. Ternyata luas bener kebunnya, tak heran jika minuman teh menjadi sesuatu yang sangat khas di Bandung dan sekitarnya. Ini cuplikan foto pas di kebun teh itu.






Nah itu hari keduaku di kota kembang. Di hari ketiga, aku diantar Agus ke kampus ITB untuk menghadiri Technical Meeting. Karna Agus hari itu harus bekerja, maka aku ditinggal dan akan dijemput pas sudah kelar acara TM-nya. Saya sendirian mengelilingi kampus yang berlogo gajah (ganesha) ini. Sesekali tanya mahasiswa di sana. Pas sudah nemuin ruangannya, nggak sengaja aku bertemu mahasiswa asal Universitas Brawijaya Malang yang kebetulan dia lagi sendirian juga mewakili 15 orang teman lainnya. Wah, kebetulan banget ketemu dia.

Kamipun basa-basi seputar ilmu PLC dan jurusan kami. Dan tak lama acara sudah dimulai, pesertanya banyak sekali. Pas acara sudah hampir selesai, aku memberitahu Agus untuk siap-siap jemput aku. Karna langit juga sudah melihatkan kegelapannya. Pas acara selesai, aku nunggu Agus sambil ngelihat anak-anak kesenian lagi melukis di lapangan sebelah Aula Timur ITB. Sungguh indah suasana saat itu. Tapi Agus juga tak kunjung tiba, pikirku dia lagi di jalan. Dan saat itu aku ganti menunggunya di masjid depan ITB, subhanallah menakjubkan sekali mahasiswa-mahasiswa di sini. Mereka rajin betul bergerombol untuk diskusi dan membahas masalah-masalah kuliah di sekitar taman masjid ini.

Hujan-pun turun, tapi masih belum nyampe si Agus nih. Jam menunjukkan pukul 14.00, wah mepet juga nih waktu *pikirku. Sebelumnya, aku dan Indra memesan tiket Pulang-Pergi, jadi harinya sudah ditentukan dan saat itu adalah kami harus kembali ke Malang. Tapi tak lama Agus-pun datang dan kami langsung bergegas ke tempat Agus untuk mengambil barang-barangku. Di tengah jalan hujan bertambah deras, di setiap sudut jalan raya macet karena banjir di beberapa titik kota. Wahh, pikiran nggak tenang masalahnya jam 15.30 aku harus sudah nyampe di Stasiun Bandung. Karena kereta berangkat jam segitu, dan jika aku telat maka hanguslah tiket yang aku pegang ini. Tapi, aku yakin kalo aku bisa nyampe stasiun sebelum jam keberangkatan itu. Agus-pun mencoba mencari jalan alternatif agar bisa nyampe rumahnya dengan cepat. Sekitar jam 14.45 kami nyampe rumah. Akupun cepet-cepet bergegas mengambil barang dan langsung ke menuju ke stasiun.

Di jalan, ternyata jalanan masih banjir dan macet. Wah, menambah daftar kekhawatiranku saja ini *pikirku. Dan di perjalanan, sesekali aku sms Indra dan ternyata di daerah kakaknya juga macet, malah parah katanya sampe-sampe sepeda motor sulit untuk bergerak. Memang parah euy kalau lagi hujan lebat, matot Bandung. Pas nyampe deket terminal, sepeda motor yang kami tumpangin menyalip seseorang dan tidak sengaja dia kena cipratan air di jalanan. Diapun mengejar kami sampe lampu merah, aku-pun kaget ketika dia marah-marah ga jelas kepada kami *masalahnya pake bahasa Sunda. Makanya nggak ngerti aku, yang ngerti Si Agus. Akupun bengong, hanya bisa berucap “ngapunten A’ ”. Tapi akhirnya diapun ngasih maaf.

Kami lanjutkan perjalanan dengan melewati jalan-jalan alternatif yang ga jelas itu. Dan pas nyampe di stasiun kota Bandung ini ternyata jam 15.25 WOOOW. Cuma tersisa 5 menit euy, nggak pake lama aku langsung pamit Agus trus nyerahin tiket ke petugas, dan keretapun sudah jalan pelan-pelan, aku kejar kereta itu dan taraaaaaa..akhirnya masuk gerbong juga. Terus gimana nasib si Indra? Nah, ini yang jadi masalah. Dia belum nyampe stasiun, sementara kerata sudah berjalan. Tapi kakaknya mengantarkannya mencoba untuk naik kereta di stasiun kereta kiara condong. Tapi alhasil “NIHIL”. Indra ketinggalan kereta euy, dan saya harus sendiri L.

Baju basah, perut lapar, tiada teman dan lengkap sudah penderitaan. Tapi yang paling bikin kesal itu perut yang lapar ini, gimana nggak lapar pagi cuma makan bubur ayam, siang gak makan karena hujan yang tak henti-henti ditambah perjalanan macet yang sangat menyita waktu itu. Nah ditambah lagi, di hadapanku ada cewek lagi enak-enaknya makan nasi bungkusnya dengan nikmat yang tiada tara itu, Puhhhh tambah perih rasanya perutku ini. Aku berharap segera ada pelayan kereta yang biasanya keliling jualan nasi, bakso atau snack yang lainnya. Maklum kereta Malabar yang aku naikin ini, pedagang asongan dilarang berjualan kecuali pas nyampe stasiun. Lha mau nunggu berapa kilometer lagi saya menemukan stasiun? Tapi, keingian saya akhirnya mulai terkabul, pelayan si kereta api ada yang menjajakan bakso.

Aku sih berharap nasi yang dijajakannya, tapi belum waktunya katanya. Macam main sepak bola saja pake waktu *pikirku. Ya, akhirnya aku santap tuh bakso yang harganya 3 kali lipat lebih mahal dari baksonya Cak To’glek langganan-ku di kost. Tak lama kemudian nasi goreng lewat, puhhhh nyeselnya. Tapi sekitar 20 menit kemudian akhirnya kami berhenti di stasiun, nggak tau stasiun apa namanya. Penjual-pun berliaran dan aku puas-puasin makan seenak + sekenyang mungkin. 

Dan begitulah aku lewati perjalanan yang berawal dari ketidakterdugaan sampai pada ketidakterdugaan lagi. Gimana nggak coba, udah berkesempatan ke ITB secara cuma-cuma, menikmati indahanya kota kembang meski salam perasaan yang was-was, mulai dari HP Agus nggak bisa dihubungin, mau dihajar orang gara-gara ngebut, mau ketinggalan kereta, pulang nggak Indra, sampai ngiler ngelihat cewek yang makan dengan mantapnya itu. Huuhuuuu,,,meski begitu saya tetap bersyukur udah bisa melihat Bandung. Semoga cerita ini bisa menjadi system immune bagi temen-temen yang ingin berangkat ke suatu tempat di mana persiapan, kesiapan dan kekuatan harus benar benar BENAR.

Terima kasih,

Gace